AKU masih disini, berdiri tegak diatas bumi pertiwi menekur
dalam harap cemas perubahan, menyaksikan curat-marutnya ketatanegaraan,
ditangan lalim para pencengkram kekuasaan…
Sesekali air mata berlinang menatap si kecil yang mengais
rizqi dijalanan, sedangkan putra kaum elit duduk manis mengenyam bangku
pendidikan…
Kurasa adil dan makmur hanya terpasung pada patung keramat
burung garuda yang menghiasi istana kepresidenan, ketika melihat si papa lagi
tua rentah hanya beralas kardus dibawah kolong jembatan…
Lidah begitu keluh menahan onak yang tak kuasa ingin
kuteriakkan…
Masih ku ingat jerit pilu kaum buruh menuntut kesejahteraan,
sebab kerja kontrak tak ubahnya bak kaum jajahan habis manis lalu sepah
dibuang, perbudakan pekerja panci di Tangerang merupakan realitas memilukan.
Sedangkan nun jauh diseberang sana, para Pahlawan devisa
keluh pilu ditanah rantau, muka robek digilas setrika, caci maki sumpah
serapah, bahu patah, bibir memar, kehormatan dijarah. Tak sedikit yang pulang
tanpa nyawa…
Sementara mereka di ‘Senayan’ mengatasnamakan koalisi untuk
rakyat hanya bersuara lantang dengan nada sumbang, lalu diam membungkam setelah
mulut disulam dengan uang, tak jarang
mempertontonkan kelakuan ala preman…
Kurasa mereka tidak lebih mulia dari pekerja sek komersial
yang menjajakan diri ketika malam datang. Bedanya yang satu adalah kaum
terhormat, memakai baju kemunafikan berkoar ditelevisi dengan dalih aspirasi
rakyat, lalu tunggang langgang setelah mendapatkan proyek tambal-sulam.
Sedangkan yang lain menjajahkan mahkota kehormatan karena dililit kelaparan,
sebab keterbatasan lapangan pekerjaan.
Rasanya mendidih, merinding ketika kemarin ku dengar TKI
mati ditiang pasung…
Ulah para penguasa lalai yang hanya duduk manis di
kursi-kursi empuk pemerintahan, tebar pesona untuk pencitraan lalu tutup
telinga ketika gunjingan datang. Tukang sate pun digelandang ke ‘kandang’.
Di Negeriku tuan, Keadilan ibarat pohon ilusi yang tumbang
dimeja perkara, sebab hukum tebang pilih jaksa berjubah vampir, hakim disodomi
dengan rupiah, pengacara berlidah serigala,
Polisi bak kompeni, si kaya bisa bebas dengan mudahnya, sebab si miskin tak akan
mampu merekayasa kasusnya…
Di Negeriku Tuan, ingin jadi pemimpin harus pandai menipu
ketika pemilu, basa-basi janji semu jangan malu, sebab jika tidak begitu tidak
laku.
Di Negeriku Tuan ingin menang pilkada harus berkerjasama
dengan KPU. Sebab pandai menggelembungkan suaramu, jangan lupa bagi-bagi angpau
untuk setiap kepala keluarga 50ribu.
Di Negeriku Tuan, Rakyat miskin bersimbah luka, membayar
pajak untuk menggaji pejabat, malah masuk kantong keparat, penjahat berbaju
malaikat, ulah politisi bak tikus memakai dasi.
Di Negeriku Tuan, Rakyat miskin bersimbah luka disayat,
membayar pajak untuk menggaji pejabat, malah masuk kantong keparat, penjahat
berbaju malaikat.
Di Negeriku Tuan, Koruptor lebih subur daripada padi
disawah, kehadirannya merajalela, bahkan KPK dipermainkannya.
Para pemimpinnya hidup mewah Tapi rakyatnya makan dari
mengais sampah…
Tidak buta, tapi tak melihat. Tidak tuli,Tapi Tak Mendengar.
Aku melihat sebagian begitu gagah duduk diruangan ber AC
dengan kendaran mewah, dan pengawal dengan tubuh kekar, yang diinginkan hanya
perlu ditagih. Tapi sebagian yang lain bernaung diantara kardus sampah,
berteduh dibawah jembatan, hidup dibawah terik Matahari.
Si papah yg tangannya
menengadah, hati menjerit dan bibrnya meminta. Kalian yang Berjanji akan adil
dan akan mensejahterakan, Telah berpenyakit amnesia. klian pura-pura Buta dan
tuli…
Teruslah bergerak kawan… Jalanan terlalu indah untuk kita
tinggalkan,
perubahan mungkin belum sekarang, tetapi menjadi bagian dari
perubahan nanti adalah kebanggaan. Bertahanlah meskipun harus bersimbah darah
dibumi pertiwi ini. Perjuangan ini belum seberapa dibanding pendahulu bangsa
yang telah mempersatukan Nusantara.
Biarkan mereka menuduh ini ditunggangi sia anu, si ini, atau
si itu, tutup teliga keras-keras untuk suara-suara sumbang itu, biar nanti
kebenaran yang angkat bicara dengan sendirinya,
Percayalah ini Sirotul Mustakim, lagi pula kita bukan
aktifis bayaran dengan isu titipan, kita tak semurah yang mereka kira. Kita
lantang atas dasar realita, Kaum pergerakan sejati adalah mereka yang brgerak
dengan lidah, tindakan dan perbuatan.
kadang harus dicibir, kadang dbenci, diasingkan bahkan
dbuang. Tapi akan selalu dikenang, kehadirannya dirindukan dan lembaran sejarah
mreka akan ditulis dengan tinta-tinta emas. Hingga anak cucu bangga memiliki
mendiang yg bukan mewariskan harta tapi khormatan,
Yang hidup bagaikan lilin, Yang mati dalam kemuliaan…
Permukaan masa lalu yang silam, tak lagi kelam karena merah putih yang bersinar
Para laskar Ibu Pertiwi telah mengukir indah hasil jerih
payah perjuangan dari sejuta pengorbanan tanpa pamrih. Harta, jiwa dan darah
telah menjadi penebusnya, hari tak lagi gulita, tanah tak lagi dijajah, anak
cucu bermain bersahaja di taman indah bernama Kemerdekaan…
Merekah budi luhur Pahlawan, menyemai semerbak taman
Nusantara untuk generasi masa kini agar bernafas leluasa dalam kemerdekaan
sejati dikemudian hari…
Penjajah telah lari tunggang langgang. Hari ini adalah tugas
generasi masa kini untuk menyadarkan penjajah dari Negeri sendiri.
Agar kelak dari sabang sampai merauke terbentang masa depan
gemilang bagi setiap generasi yang baru dilahirkan…
Agar kelak setiap generasi menjadi tuan diNegerinya
sendiri..
Agar kelak setiap generasi tak perlu mempertaruhkan nyawa
keluar Negeri mencari Rizqi...
Bangkit Kaum Muda...
Oleh : Beni Pramula
Ketua Umum
Dewan Pimpinan Pusat
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ketua Umum
Dewan Pimpinan Pusat
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
