![]() |
| Dianti Novita Marwa |
Oleh
: Dianti Novita Marwa
Menanti
detik-detik kematian dibalik deruji besi Arab Saudi menjadi penggalan kisah
pilu Satinah. Sang “Pahlawan Devisa” Indonesia. Hari eksekusi hukuman mati terhadap
dirinya yang makin dekat, menjadi polemik. Keterlambatan bantuan pemerintah Indonesia
terhadap Satinah, dikritik banyak kalangan.
Bantuan
hukum yang tidak diterima dan "ketidakpedulian" Indonesia disaat
pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati menjadi babak baru baginnya. Satinah tak
bisa berbuat apa-apa di negara yang asing baginya, hanya bisa menunggu kematian
datang.
Peluang
untuk ganti rugi pun seakan sirna setelah tidak ditemui kata sepakat. Keluarga
hanya mampu membayar ganti rugi (diyat) Rp. 12M. sedangkan pihak keluarga
korban meminta Rp. 21M.
Di
Indonesia sendiri kalangan aktivis sosial dan pemerintah khususnya di Jawa
Tengah telah membuka posko untuk menerima bantuan dari masyarakat. Namun,
ternyata bukan hanya Sutinah Sang Pahlawan devisa negara yang harus menghadapi
kenyataan di eksekusi mati. Tapi masih ada 70 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di
Malaysia yang mengalami kasus serupa dengan Sutinah. Belum lagi dinegara-negara
lain. Akan sampai kapan TKI sang pahlawan devisa tereksploitasi oleh kematian
dinegeri orang? Akan sampai kapan negara ini terlambat membantu dan membela
rakyatnya?
Jika
terus-terusan hal ini terjadi, maka kekuatan Indonesia yang merasa besar, dipertanyakan.
Untuk kesekian kalinya Indonesia tak mampu melindungi warganya.
Berbagai
solusi sudah ditawarkan, tetapi seakan terabaikan dan sulit untuk dilakukan.
LSM, akademisi, aktivis, dan hampir seluruh lapisan masyarakat bahu membahu. Membantu
baik moril maupun materiil dalam penanganan keadaan ini.
Tak
punya kekuatan massif, Indonesia Seakan menjadi bulan-bulanan negara asing. warganya terus dieksploitasi dengan kenyataan
tak terbantahkan bahwa bangsa ini lupa akan jasa para pahlawan-pahlawan devisa
itu.
Kini,
semua media meliput dan memberitakan tentang Satinah. Namun, hanya bayangan
kematian didepan mata Satinah.
Bagi
bangsa ini, mungkin tak berdampak penting jika seorang warganya dihukum mati. Tapi mau
sampai kapan bangsa ini tercabik-cabik membiarkan warganya mati dieksekusi? Menjadikan
Pahlawan Devisa sebagai pahlawan tanpa
tanda jasa?
Kenyataannya,
bangsa ini tetap bertahan pada keegoisannya. Membiarkan Satinah dan TKI lain menjadi
pahlawan devisa dinegeri asing, bertaruh atas nama bangsa didepan kematian.
Penulis
Adalah Aktivis DPD IMM Sumatera Utara
Sumber Foto : iPublika
