IMM DIANTARA PERGULATAN PERADABAN GLOBAL
(Rekonstruksi Gerakan Ikatan dalam Kemandirian Bangsa)
Oleh : AFFANDI AFFAN
Iftitah
Tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia nampaknya semakin
berat dari waktu ke waktu. Sebagai negara berkembang yang bermimpi menjadi
sebuah bangsa yang dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan
bangsa-bangsa maju lainnya di dunia. Indonesia menghadapi berbagai beban
tantangan yang terlihat semakin kompleks dari hari ke hari. Berbagai problema
internal, baik menyangkut kehidupan ekonomi, politik dan sosial, nampak semakin
mengusut, mengiringi tantangan yang menyerang dari luar yang juga tidak mudah
dikendalikan. Meskipun rezim Orde Baru telah angkat kaki, tetapi pemerintah
baru yang menggantikannya belum mampu untuk menemukan obat yang mujarab untuk
mengatasi problematika internal, bahkan problematika itu semakin membiak dengan
subur, akibat banyaknya keputusan dan kebijakan yang tidak pas dengan tuntutan
kehidupan bangsa.
Elit politik yang seharusnya bahu membahu dan bergandeng tangan
dalam mengatasi problematika internal, akan tetapi ternyata lebih memilih
berjalan sendiri-sendiri seolah tanpa koordinasi. Barangkali hal ini
mengisyaratkan bahwa mutual trust atau saling percaya di antara para elit itu
tidak kunjung terbentuk. Padahal sebuah komunitas, apalagi yang bernama negara,
membutuhkan elit politik yang mampu saling mendukung dan bekerjasama dalam
mengatasi problem yang sedang dihadapi
(Covey, 1999)
Setiap anggota, kader dan warga ikatan hendaklah memiliki
sensitivitas ideologi, yang menggelorakan semangat kebangsaan dalam upaya
mendorong tercapainya mimpi dan harapan masyarakat Indonesia yaitu terciptanya
tatanan kehidupan sosial yang harmonis, dengan senantiasa menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan yang berakar pada karakter yang dilandasi dengan iman
dan taqwa mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera lahir dan batin
dalam rahmat dan ridha Allah SWT.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam perjalanannya yang telah mencapai setengah abad (50 tahun) terhitung sejak 14 Maret 1964 – 14 Maret 2014 yang notabene sebagai perwujudan keinginan Muhammadiyah mewariskan
gerakan intelektual menyikapi cepatnya pergerakan ilmu pengetahuan dan
teknologi, maka satu hal yang makin penting dalam rangka mengaktualisasikan
gerakan Muhammadiyah pada level sosial yang objektif, di kota maupun di desa,
adalah bahwa secara sadar Muhammadiyah harus kembali berperan untuk mengarahkan
transformasi sosial. Sejarah membuktikan, gerakan sosial Muhammadiyah bukan
hanya berhasil melakukan adaptasi tapi juga reformasi terhadap system yang
ada.Kini sekali lagi gerakan Muhammadiyah ditantang untuk membuktikan
kemampuannya itu. Jelas bahwa adaptasi sosial yang brhasil dicapai Muhammadiyah
sampai sejauh ini masih harus dilanjutkan kearah reformasi. Pertanyaannya,
siapkah Muhammadiyah mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi strukturalnya ?
(Kuntowijoyo, 1991). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai pewaris sejarah yang
dicapai Muhammadiyah ditantang untuk berfikir keras agar dapat melahirkan
pemikiran-pemikiran cerdas dalam menempatkan posisinya sebagai gerakan
intelektual yang Islami yang sadar terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya
atas peran kehambaan-kerisalahan-dan kekhalifahan yang benar-benar akan dapat
menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin)-keteladanan yang baik
(uswatun hasanah) serta berperan li utamimma ma karimal akhlaq.
IMM : Refleksi Intelektual
Muslim Muhammadiyah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah refleksi intelektual muslim
yang sepatutnya tidak hanya memiliki kemampuan intelektual yang cemerlang, akan
tetapi memancarkan kecerdasan emosional-kecerdasan spiritual dan kecerdasan
sosial sehingga tidak terjadi
kesenjangan antara tujuan Muhammadiyah melahirkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
sebagai pewaris intelektual yang Islami-yang akan tetap sadar dan bertanggung
jawab akan tujuan Muhammadiyah yaitu “ menegakkan dan menjunjung tinggi agama
Islam sehingga terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya” .
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak boleh kehilangan identitas
dirinya dan terpisah dari sejarah kelahirannya, dan tidak boleh pula menjauh
dari latar belakang kehadirannya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Kita harus mencoba, sekuat kita, untuk memikirkan kembali situasi
histories yang diciptakan oleh perkembangan masyarakat-masyarakat Islam selama
tiga puluh tahun yang silam, suatu fase dimana pemikiran kritis-yang mengakar
dalam modernitas tetapi mengkritisi modernitas itu sendiri dan meneruskan
pengkayaannya dengan bertumpu pada contoh Islam-harus menyertai-atau bahkan
untuk sesekali mendahului tindakan politik, keputusan-keputusan ekonomi, dan gerakan-gerakan
sosial yang besar.(Arkaoun, 1995).
Peranan pemikiran dalam suatu peradaban tertentu, tidaklah terbatas
pada semata-mata asesori dan pelengkap hidup, semisal menciptakan hiasan-hiasan
dinding di rumah-rumah. Dan itu tidak mungkin terjadi kecuali ketika masyarakat
tersebut memasuki periode pasca peradaban.
Pada periode keterlibatan masyarakat dalam sejarah, pemikiran-pemikiran
memainkan peranan fungsional. Sebab yang disebut peradaban adalah kemampuan menjalankan
fungsi dan tugas tertentu. (Malik bin Nabi,1994)
Sebagai pewaris gerakan intelektual yang saat sekarang ini sedang
berenang di antara ombak gelombang peradaban global dengan berbagai
konsekuensinya, menjadi keharusan agar tetap mawas diri dan selalu ingat serta
menjaga dan menelihara keseimbangan antara pencerdasan intelektual-pencerdasan
emosional-pencerdasan spiritual dan pencerdasan sosialnya, dengan senantiasa
menghidupkan panca indera dan daya observasinya, menghidupkan daya rasa dan
daya ciptanya, serta menhidupkan dhamir-hati nurani dan bashirahnya. (Abul
A’la, 1984)
Pemberdayaan energi intelegensi untuk menangkap getaran-getaran
peradaban global-yang kerapkali akan mendatangkan badai transisi yang luar
biasa yang akan mengguncang sendi-sendi dan kerangka pikir sebagai bagian dari
masyarakat dunia-akan menghadapi dilemma-jika tidak mempersiapkan diri
menyambut peradaban baru tersebut.
Selama lima abad terakhir ini pemikiran keagamaan dalam Islam
terhenti. Suatu masa datang ketika pemikiran Eropa menerima ilham dari kejayaan
dunia Islam. Tetapi gejala yang paling mencolok dalam sejarah modern adalah
kecepatan yang luar biasa dimana umat Islam bergerak menuju Barat di bidang
kerohanian. Tidak ada yang salah dalam gerakan itu, karena kebudayaan Eropa di
segi intelektualnya, merupakan suatu perkembangan lebih lanjut dari beberapa
segi penting dalam peradaban Islam. (Muhammad Al Bahiy,1986)
Menjadi intelektual muslim universal merupakan tanggung jawab
sebagai warga dunia terhadap peradaban umat manusia, maka hendaklah menempatkan
diri dalam lingkungan dunia dengan ide dan gagasan besar, serta mampu menangkap
realitas yang ada di sekitar kita. Dan kita menyadari bahwa pada seluruh
babakan sejarah dunia, kita akan menemukan Manusia Besar sebagai juru selamat
yang niscaya di zamannya, sebagai sambaran kilat yang tanpa itu bahan bakar tidak
akan terbakar. Sejarah dunia-hanyalah biografi Manusia Besar. Ada dua hal yang
menyebabkan seseorang menjadi manusia besar, kekuatan intelektual untuk
memahami realitas dan kemampuan bertindak yang tepat. Seorang manusia besar
yang mengubah sejarah memang bukan hanya seorang filosof, yang bergulat dalam
konsep dan gagasan besar. Ia harus dapat
menangkap realitas. Ia harus mengerti apa yang terjadi pada zamannya. Ali
Syariati pernah membedakan dua jenis orang pintar; ilmuwan dan intelektual.
Ilmuwan bersifat universal, Ia diterima dimanapun. Newton adalah ilmuwan di
Inggeris, Jerman, Jepang dan Indonesia. Intelektual bersifat lokal. Ia adalah
orang yang berhasil menangkap dan memahami
realitas bangsanya. Ia mempengaruhi bangsanya dengan berpijak pada
nilai-nilai yang dianut bangsanya. Karena itu Soekarno adalah intelektual
Indonesia, Ia tidak cocok untuk Francis.(Jalaluddin, 2000)
Berangkat dari sebuah kepercayaan, keterlibatan dalam tatanan
peradaban global sebagai era multiperadaban, mengharuskan kita menghindari
jeratan pemikiran yang melampaui wahyu dan melewati nilai-nilai prophetik,
karena lebih disebabkan kehadiran kita dalam sejarah ini bukan sekedar
menempatkan diri sebagai wakil manusia yang hanya berorientasi untuk
kepentingan manusia semata-mata, akan tetapi lebih dari itu bahwa hidup kita
benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam (ramatan lil ‘alamin)-menjadi
uswatun hasanah (memberikan teladan yang baik) serta li utamimma ma karimal akhlak
(membangun akhlak dan peradaban yang elok).
Terdapat ungkapan yang mengatakan ‘ kebudayaan adalah warisan
kemanusiaan’ karenanya tidak mengenal tanah air, bangsa dan agama. Ungkapan ini
benar bila tidak dikaitkan dengan sains dan berbagai praktik penerapannya,
selama tidak-melampaui domainnya hingga-merambah penjabaran filosofis
metafisika untuk menyimpulkan konklusi-konklusinya, tidak merambah penjabaran
filosofis mengenai jati diri, dan aktivitas serta sejarah manusia.(Syyid
Quthub, 2010)
IMM : Warga Bangsa Yang
Mandiri dalam Kemandirian Bangsa
Dalam system kesadaran hirarkis kita, kemanusiaan dan kesadaran
dunia merupakan unsure terakhir. Sebagai orang Muslim, kita memiliki tanggung
jawab yang besarnya melebihi kemampuan kita sendiri, masyarakat kita, umat dan akhirnya terlimpah
Pada dunia secara keseluruhan. Keprihatinan pada nasib manusia, pada
penderitaan dan penyakit, pada bahaya kelaparan dan bencana, pada kejahatan dan
kekurangan pangan hanyalah merupakan satu langkah menuju kesadaran ini. Yang
lebih penting adalah kesadaran akan kekuatan-kekuatan yang menjadi penyebab
timbulnya kesengsaraan manusia ini.
Sebagian besar kesengsaraan dan penderitaan masa kini disebabkan
oleh adanya gejala perubahan: gejala ini tidak hanya berbeda dari yang yang ada
di zaman sebelumnya dalam aspek-aspek kuantitasnya tapi juga dalam aspek-aspek
kualitas dan tingkat hubungannya. Di masa sebelumnya, perubahan dating secara
pelan-pelan, endiri-sendiri dan terbatas pada konteks setempat. Sekarang,
prubahan bersifat eksponensial, global dan tidak lagi terpisah-pisah urutan
kejadiannya oleh waktu, jumlah orang yang terkena pengaruh dan tekanan-tekanan
social dan fisik yang dibawanya.(Ziauddin, 1986)
Warga bangsa mandiri adalah potret kehidupan berbangsa yang
berperadaban dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan universal
yang konsisten menjaga, memelihara dan
mempertahankan kedaulatan hidup sebagai sebuah bangsa-dimana kedaulaan hidup
dimaksud mencakup di dalamnya kedaulatan sebagai sebuah kesatuan tanah air, kesatuan
bangsa dan kesatuan bahasa, serta kesatuan wawasan sosial budaya dalam bingkai
kebhinnekaan tunggal ika, yang mampu memberdayakan dan mengelola sumber daya
yang tersedia untuk kemaslahatan sebesar-besarnya bagi umat manusia. Jadi tidak
hanya sekedar memiliki kemampuan membahagiakan diri sendiri, akan tetapi lebih
luas lagi bersedia untuk mewakafkan segala kemampuan yang dimiliki untuk
terciptanya kebahagiaan dan kedamaian umat manusia di muka bumi.
Kesadaran dan kesediaan menghibahkan diri untuk kepentingan umat
manusia dengan berbagai aktivitas sosial- amal shalih-
menggali-menemukan-mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia untuk
terwujudnya masyarakat Indonesia khususnya-dan masyarakat dunia
umumnya-mendapatkan keadilan-kesejahteraan dan kedamaian hidup merupakan
implementasi warga bangsa mandiri dalam kemandirian bangsa.
IMM dalam usianya yang
telah mencapai setengah abad tersebut hendaknya mampu menjadi pewaris gerakan intelektual di kalangan Muhammadiyah yang memiliki peran dan
fungsi kehambaan-kerisalahan-dan kekhalifahan yang melekat pada jati diri dan
takdir sejarahnya-tetap menjadi pilar memperteguh eksistensi gerakan yang akan
diperankannya.
Tentu saja yang terbaik yang harus dilakukan, meningkatkan kualitas
diri, keberanian melakukan introspeksi , kemampuan menangkap getaran-getaran
peradaban dan menyikapi realitas yang ada-menghidupkan dhamir-hati nurani dan
bashirahnya- serta meneguhkan akidah-istiqomah-menyiapkan diri sebagai pelayan
kemanusiaan dan memberikan keteladananyang anggun dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Selamat Milad IMM, semoga mampu terus memberikan
karya nyata untuk negeri.
“anggun dalam moral, unggul dalam intelektual.....” Jayalah IMM.....Jaya....
Penulis
adalah “Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara & Alumni
DAP IMM Kendari Sulawesi Tenggara”.
