GAIRAH TAHUN
POLITIK
Para elite negeri ini
makin sibuk dengan aktivitas beraroma politik. Dari elite parpol sampai
non-parpol seolah bergairah untuk menampilkan pesan-pesan politik, yang terbuka
maupun terselubung. Apakah ini ada kaitan dengan Pemilu 2014 yg sudah di depan mata?, yang memang tinggal
bulan depan? Jelas ada. Para tokoh parpol makin bergairah. Gencar pasang
iklan diri di televisi dan media cetak.
Berbagai
kunjungan ke masyarakat. Membikin manuver-manuver politik. Pendek kata,
melakukan berbagai macam aktivitas politik yang menyita ruang publik. Tidak
keliru jika tahun ini para elite politik terjangkiti demam politik 2014.
Kita juga tidak
tahu apa di balik kunjungan para tokoh parpol dan non-parpol ke kediaman Anas
Urbaningrum. Katanya sulaturahim dan memberikan simpati atau dukungan moral.
Tapi setiap keluar dari rumah mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu,
membikin pernyataan ke publik. Lupakah para elite itu tentang satu hal paling
krusial, bahwa Anas adalah tersangka kasus korupsi proyek Hambalang yang tengah
ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi? Korupsi itu tetap korupsi, siapa pun
yang diduga pelakunya, wajib dijauhi.
Para politisi
sepertinya mau melumpuhkan daya kritis masyarakat. Ditambah media yang hanya
memburu sensasi politik belaka. Makin seksi isu politik dan makin aneh dan
tidak masuk akal gerak-gerik politisi makin diburu, mereka menjadi santapan
media. Khalayak pun ikut-ikutan menikmati sandiwara demi sandiwara politik yang
kadang amat memuakkan ini. Sandiwara politik semacam ini terasa
mengandung hawa jahat yang dapat meracuni kesadaran rakyat kita.
Kini nyaris
sulit membedakan pernyataan politik dan pesan moral kebangsaan. Sebagian elite
nasional non-parpol pun sibuk dengan aktivitas yang cenderung bernuansa
politik. Kenapa demikian? Semestinya ada pembagian kerja yang jelas. Sementara
elite parpol makin tidak mengurus rakyat. Memang mereka hanya sibuk mengurus
kepentingannya sambil menguras uang rakyat. Masalahnya, beranikah rakyat
menghukum mereka yang jahat itu dengan tidak memilih mereka pada Pemilu 2014
nanti?
Ketika daya
kritis masyarakat dilumpuhkan politisi dan media, apa yang sebaiknya kita
perbuat? Bagaimana cara melakukan kampanye untuk menghidupkan kembali daya
kritis masyarakat agar mereka tidak selalu menjadi korban permainan jahat para
politisi dan pejabat negara atau pejabat publik itu?
Kenapa elite
politik memperlakukan Pemilu 2014 sebaga gerbang surga bagi keuntungan pribadi,
keluarga dan partainya? Apa peran tokoh masyarakat dalam mencerdaskan rakyat
jelang 2014?
