PEMILU 2014 semakin
dekat. Geliat politisi dan partai politik pun semakin gencar dan kentara. Upaya penanaman citra dengan
tujuan merebut kursi menjadi program utama. Sayangnya, saat ini sebagian rakyat
Indonesia terlampau muak dengan tingkah elit politik yang munafik. Akhirnya,
tidak sedikit rakyat lebih memilih menjadi by standers atau penonton yang pasif
akan hiruk pikuk pesta demokrasi.
Dari pemilu ke pemilu
memang rakyat sudah sering ketipu. Banyak caleg (Calon Legislatif) yang
menjanjikan perubahan yang lebih baik di masa depan, bermoto kejujuran dan
berpengalaman, bertopeng ulama, dan menjual embel-embel agama. Namun buktinya,
masih ada kinerja dan moralitas wakil rakyat yang menorehkan catatan buram dan
mengecewakan.
Menurut analisa
penulis, Be a Smart Voter (menjadi pemilih cerdas) di pemilu 2014 ini akan
menjadi harapan sebagian Caleg sekaligus menjadi ancaman bagi sebagian Caleg
lain. Tergantung bagaimana niat dan tujuan mereka, kapasitas intelektualnya,
investasi sosial nya, dan platform perpolitikannya.
Sehingga dapat kita
lihat, ada sebagian caleg yang sengaja membentuk masyarakat menjadi pemilih
yang irasional dan fanatik pada partai atau lambang partai, embel-embel agama
dengan topeng ulama, menjual ketokohan orang lain, mengintimidasi, black
campaign dan membentuk pemilih menjadi materialistik musiman. Hal itu dilakukan
karena ketakutan berlebihan para caleg. Mereka menjadi tidak berminat
menjalankan kampanye secara cerdas dan sehat, sebab mereka khawatir jika rakyat
cerdas, maka peluang kemenangannya menjadi kecil.
Para caleg yang
membentuk pemilih menjadi irasional biasanya adalah politisi busuk. Sebagian
diantara mereka berlatarbelakang pendidikan rendah, atau berlatar pendidikan
tinggi namun minim investasi sosial. Sebab selama ini kurang bersumbangsih
dalam masyarakat karena sikap indivitualis. Kebanyakan mereka tidak memiliki
visi, program dan platform politik yang jelas. Mereka hanya termotivasi untuk
mengeruk untung pribadi dari jabatan legislatif yang akan akan diembannya.
Wajar, setelah menang mereka mengikuti prinsip kacang yang lupa dengan kulitnya.
Berbeda halnya dengan caleg
yang menghendaki adanya pemilih cerdas dan rasional. Mereka lebih condong
memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, di setiap kampanyenya tidak mengkultusan
pilihan pada caleg tertentu saja. Bahkan mereka memberikan kebebasan kepada
kontestannya untuk menilai caleg-caleg lain dan memulang kaji pilihan kepada
pemilih.
Bagi calon pemilih yang
ingin mendapatkan kriteria Caleg-nya yang ideal, Guru Besar Filsafat UGM
(Universitas Gajah Mada) Joko Pitoyo, menawarkan 5 kriteria caleg yang baik dan
pantas dipilih. Satu, punya integritas moral, Dua punya pengetahuan yang
memadai tentang ke-Indonesiaan, Tiga kecakapan, Empat penalaran dan pengetahuan
umum yang luas, Lima kecakapan dan ketrampilan teknik legislatif.
Tugas Mahasiswa
Untuk mencapai kedewasaan
politik dalam menciptakan pemilih cerdas dan rasional, diperlukan pendidikan
politik terhadap rakyat. Pendidikan politik ini tentu menjadi tanggung jawab
besar bagi mahasiswa. Peran mahasiswa pada Middle Position menjadi penghubung
antara masyarakat dengan pemerintah membuatnya jauh lebih dipercaya
dibandingkan para birokrat, apalagi politisi yang namanya sedang hancur lebur.
Semoga di momentum
pemilu 2014 ini, ada gerakan mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi lebih
terhadap kemajuan perpolitikan bangsa. Dan tetap mampu menunjukkan jati dirinya
sebagai aktor yang selalu gelisah terhadap realitas sosial yang ada.
