Oleh : Abdul. K. Tulusang
“sebuah gagasan
hanya akan rasional, ketika tidak terasing dari realitas, dan mampu menjadi “problem solution” dalam konteks masyarakat”.
Bagi seorang Karl Freidrich Marx, esensi perubahan bukan semata-mata ada dalam
gagasan, ide ataupun pemikiran melainkan lebih ditentukan oleh komitmen yang
utuh dan kokoh dalam mewujudnyatakannya dalam tindakan. Semua orang boleh
berpikir, semua orang dapat menentukan gagasan yang terbaik buat dirinya atau
pun golongannya, tapi apakah semua orang mampu mewujudnyatakannya dalam
tindakan? TIDAK. Yang ada hanya pergulatan-pergulatan pemikiran yang sekedar
menjadi orgasme (puncak kepuasan)
intelektual saja. Revolusi pemikiran memang penting, tapi jauh lebih penting
apabila mampu terejawantahkan dalam tindakan. Revolusi pemikiran tanpa diikuti
dengan revolusi dalam tindakan adalah nonsense (omong kosong).
Pemikiran yang
revolusioner, progressif dan mencerahkan hanya akan menjadi “benda bersejarah
dan akan menjadi fosil” yang tersimpan dalam “museum” kepala kita, yang
nantinya juga akan berkarat dan lapuk di makan usia kalau hanya sekedar menjadi
wancana diskusi dan objek perdebatan saja. Perubahan itu, tidak cukup untuk
dipikirkan, dikaji, didiskusikan atau pun diseminarkan tapi perlu diturunkan ke
kaki untuk digerakkan. Sehingga, gagasan perubahan tidak hanya sekedar menjadi
mimpi atau pun angan kosong belaka. Sekali lagi, kebenaran, keadilan, kesejahteraan,
kedamaian dan term-term lainnya, semua hanya mimpi (omong kosong) jika hanya
dipikirkan dan didiskusikan jauh tinggi ke langit bahkan sampai “melewati
Tuhan” tapi tak pernah nyata dalam tindakan.
Demikian halnya
dengan konsep trilogi IMM, sejauh ini trilogy adalah “objek” di luar diri kita. Ia (trilogy) hanya sekedar dipikirkan, di diskuksikan dan ditafsirkan
kembali agar bisa lebih up to date
dengan wacana-wacana kekinian, tapi apakah trilogy sudah menjadi “subjek” dalam
diri kita? Sudahkah trilogy menjadi sumber nilai (pandangan hidup) kita? Sudahkah trilogy menjadi ruh dan menyatu
dengan raga kita, sehingga sifat dan sikap kita benar-benar mencerminkan
hakikat trilogy tersebut? Jika kita mau fear untuk mengakui, mengapa kita
sering “menabrak” hakikat trilogy, karena memang ia (trilogy) hanya menjadi objek kajian saja, trilogy tidak menjadi ruh
dalam setiap gerakan aktivitas kita. Masalah yang paling substantif dalam hemat
penulis, adalah sejauh mana kita mampu
membumikan[1]
trilogy dalam karakter pribadi dan konteks kehidupan kita.
Akhirnya, jawaban yang paling arif
dan bijak, ada dalam diri kita…memitoskan trilogi ataukah melahirkannya dalam
tindakan…
