Jakarta-iPublika. Bela negara, seperti yang diamanatkan
UUD 1945 merupakan hak dan kewajiban seluruh elemen masyarakat. Namun ketika
kita berbicara dalam konteks etnik Tionghoa, nampaknya antara orang Tionghoa
Indonesia dengan dunia kemiliteran masih sering dipersepsikan sebagai dua
entitas yang terpisah, saling berjauhan. Begitulah yang disampaikan Hardy
Stefanus, Ketua Umum DPP Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Gema
INTI) dalam siaran berita yang dikirimkan ke redaksi ipublika.com.
Generasi Muda Perhimpunan Indonesia
Tionghoa (Gema INTI) dan Yayasan Nabil (Nation Building) bekerja
sama Penerbit Buku Kompas (PBK) dan Universitas Pertahanan Indonesia menggelar
peluncuran dan diskusi buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Dari Nusantara sampai
Indonesia. Acara
Peluncuran dan Diskusi Buku pada hari Kamis, (4/12)
di Gedung Joang ‘45, Jl. Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat.
Narasumber yang dihadirkan adalah
Laksamana Madya TNI Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc., Rektor Universitas
Pertahanan Indonesia, dan Mayor Jenderal TNI Agus Sutomo, S.E dari
Pangdam Jaya, Dr. Jaleswari Pramodhawardani sebagai Pengamat Militer LIPI,
serta dimoderatori oleh Ulung Rusman, Alumnus Lemhannas.
Hardy Stefanus menjelaskan bahwa Buku
“Tionghoa dalam
Sejarah Kemiliteran: Dari Nusantara sampai Indonesia” yang digagas oleh Ketua Pendiri
Yayasan Nabil, Drs Eddie Lembong mengungkap fakta sejarah yang tak banyak diketahui. Salah satu diantaranya adalah keterlibatan warga Tionghoa dalam berbagai aktivitas kemiliteran
di Nusantara yang ternyata telah berlangsung lebih dari satu milenium. “Patriot-patriot berkulit kuning telah ikut berjuang bersama kaum pribumi
sejak zaman pra-kolonial,
kolonial, Perang Kemerdekaan RI (1945-1949), masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966), sampai masa Operasi
Seroja Timtim (1976). Banyak di antaranya kemudian dilupakan,
namun ada juga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dari Sabang sampai
Merauke,” katanya.
Lebih lanjut Hardy juga menjelaskan Prajurit dan panglima Tionghoa—Totok maupun Peranakan—antara lain pernah ikut ambil bagian dalam aksi
penyerbuan armada laut Jepara ke Malaka (abad ke-16); "Geger Pacinan" atau
perang Jawa-Tionghoa melawan VOC-Belanda (abad ke-18); dan Perang Kongsi di Kalimantan Barat (abad ke-19).
“Dalam sejarah
kemiliteran Indonesia pernah ada: laskar "Pemberontak
Tiong Hoa"; serta “Laskar Pemuda Tionghoa” yang mendukung
Proklamasi 1945; tokoh John Lie,
pahlawan Angkatan Laut yang kemudian diangkat sebagai Pahlawan
Nasional (2009). Demikian pula adanya para perwira
Tionghoa alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dari matra
darat, laut dan udara.”
Mantan presiden mahasiswa
Universitas Tarumanegara ini juga mengungkapkan bahwa buku ini diharapkan
bisa memotivasi pemuda-pemuda etnik Tionghoa
untuk masuk ke dalam institusi TNI. “Dalam berbagai kesempatan, TNI sudah
membuka pintu lebar-lebar, namun animo yang diberikan oleh generasi muda etnik Tionghoa
belum menggembirakan lanjutnya itu Alangkah indahnya apabila penjaga Ibu Pertiwi di darat
laut dan udara semakin banyak diisi oleh pemuda pemudi Tionghoa. Dengan kata
lain, buku ini diharapkan akan membawa secercah kontribusi pada proses Nation
Building kita,” tutupnya. (phb/kr)
