Fuzhou - Jalur Sutra yang ada dalam benak
kebanyakan orang adalah lintasan perjalanan darat panjang dari Xi'an hingga ke
Konstatinopel, melintasi gurun Taklamakan dan daratan Eurasia. Tetapi, seiring
dengan perkembangan dunia maritim di zaman Abad Pertengahan, Jalur Sutra yang
kuno pun meredup, digantikan oleh lintasan perdagangan baru dari samudra ke
samudra.
Jalur inilah yang dikenal dengan Maritime
Silk Road atau Jalur Sutra Maritim. Para pedagang dari negeri Tiongkok
melintasi Laut Tiongkok Selatan, sampai ke Semenanjung Malaya, melintasi Selat
Malaka dan Selat Sunda, dan menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Arabia.
Tidak ada kota yang bisa menggantikan posisi kota Quanzhou, yang menjadi titik
mula perjalanan panjang ini.
Dalam perkembangannya, saat ini digelar RRT
menggelar International Seafood Industry Forum of Maritime Silk Road (3-4/11) di
Fuzhou – RRT dengan peserta dari berbagai negara dunia. Pada kesempatan
tersebut, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS didaulat sebagai Keynote Speaker.
Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa Eksplorasi
hasil laut untuk suplai pangan berbasis industri seafood yang lestari serta perumusan dan pemanfaatan Jalur Sutera
Maritim untuk perdagangan ditambah model distribusi dengan prinsip-prinsip
menghormati hak kedaulatan bangsa atas teritorial lautnya. Hal ini sangat
relevan dengan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia program andalan
Kabinet Kerja.
Terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf
Kalla (JK) sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019 memberi angin segar
dan perubahan orientasi pembangunan yang mendasar. Jokowi-JK telah berkomitmen
untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia abad ke-21. Gagasan besar
ini bagus dalam wacana, namun ia tidak akan terwujud jika tidak didukung dengan
perencanaan dan strategi yang matang, komitmen dan dukungan anggaran, sistem
pelaksanaan yang cermat, dan pengawasan yang ketat.
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, Prof
Dr Ir Rokhmin Dahuri, memaparkan potensi dan pemanfaatan ekonomi kelautan.
Menurutnya, usaha di sektor-sektor ekonomi kelautan sangat menguntungkan dan
menyerap banyak tenaga kerja. "Usaha di sektor-sektor ekonomi kelautan
juga mengandung local content yang tinggi dan banyak produknya yang dibutuhkan
pasar global, sehingga dapat mengurangi defisit neraca perdagangan dan
inflasi," ungkap Rokhmin.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu mengungkapkan, dengan memperkuat dan mengembangkan sektor transportasi laut, pelabuhan, dan industri perkapalan nasional, maka konektivitas kelautan akan secara dramatis membaik. “Biaya logistik akan semakin murah, dari sekarang 24,6 persen PDB menjadi kurang dari 15 persen PDB. Daya saing ekonomi nasional akan meningkat signifikan,” tuturnya.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu mengungkapkan, dengan memperkuat dan mengembangkan sektor transportasi laut, pelabuhan, dan industri perkapalan nasional, maka konektivitas kelautan akan secara dramatis membaik. “Biaya logistik akan semakin murah, dari sekarang 24,6 persen PDB menjadi kurang dari 15 persen PDB. Daya saing ekonomi nasional akan meningkat signifikan,” tuturnya.
Sebagaimana kita ketahui Letak geografis Indonesia yang penting dan peran menonjol Indonesia di ASEAN, menjadi pertimbangan Presiden Xi Jinping memilih Indonesia sebagai tempat untuk pertama kali meluncurkan inisiatif RRT mengenai Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21 (21st Century ”Maritime Silk Road”) di Gedung DPR RI pada Oktober 2013 lalu.
Hal serupa pernah dikemukakan oleh Mr. Qin Yucai, Director General of Chinese National Development and Reform Commission saat diterima oleh Plt. Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Duta Besar M. Wahid Supriyadi pada hari Kamis (27/02) lalu.
Salah satu bidang utama kerja sama dalam kerangka Jalur Sutera Maritim adalah infrastruktur. Jalur Sutera Maritim juga akan mencakup kerja sama bidang energi, pertambangan, pariwisata, people-to-people contact, marine protection, perikanan dan lainnya.