Miris. Itulah satu kata yang bisa terucap melihat penurunan
prestasi Indonesia, khususnya di kancah Asian Games 2014 baru-baru ini.
Lagi-lagi, yang jadi kambing hitam siapa? Tentu Atlet dan Pelatihnya. Padahal,
di balik layar bukan cuma mereka yang layak jadi tertuduh.
Penyebab pertama menurut saya adalah cekcok internal
di sejumlah organisasi keolahragaan. Rebutan ‘piring nasi’ antar pengurus
acapkali membuat mandek aktifitas latihan kita. Sekaligus berdampak negatif
pada mental atlet.
Belum lagi, akibat itu banyak kasus atlet dan pelatih yang
prestasinya bagus dengan serampangan digeser dan dimatikan karakternya karena
melakukan protes. Kejadian ini lazim terjadi di tingkat provinsi, juga nasional
sekalipun.
![]() |
| Andi Purwanto Atlet/ Pelatih Gulat, Wushu dan Bola Tangan |
Kuncinya saat ini adalah reformasi sistem olahraga! Tapi
bukan cuma teori, yang ujung-ujungnya hanya tertulis diatas kertas
mengatasnamakan UU No 3 tentang sistem keolahragaan Indonesia.. Undang-undang
yang sempat melewati perjalanan panjang yang kami perjuangkan bersama Forum
Peduli Atlet sejak masa Presiden Megawati Soekarno Putri, dan kemudian baru disahkan
pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005 itu seakan tak
memberi makna yang signifikan. Implementasinya tumpul kebawah.
Ironis saja, ketika kita melihat banyak sekali mantan atlet
yang bingung ketika anaknya sakit hendak dibawa berobat kemana. Ada yang
menjual medali demi sesuap nasi, dan petinju mati diatas ring tanpa jaminan
negara. Meskipun hidupnya dihabiskan untuk membela nama tanah air, Indonesia.
Menteri ke depan, saya berharap mampu memberikan jaminan
kesejahteraan. Untuk pelatih dan atlet, bukan untuk pelaku kelembagaan
olahraga. Pikirkan beasiswanya, berilah penghargaan untuknya, baik dalam bentuk
pekerjaan, asuransi, maupun tunjangan hari tua. Selanjutnya perketat
pengawasan.
Sudah jadi rahasia umum, selama ini sering terjadi konflik antar
pengurus olahraga karena persoalan anggaran. Atlet dan pelatih yang merasa
kurang dihargai, banyak loncat dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan banyak yang
hengkang ke negeri tetangga. Memprihatinkan.
