Jakarta- Disaat harga gas dalam negeri terus
mengalami kenaikan, gas yang diekspor ke China tidak boleh naik, yakni tetap
dengan harga yang disepakati pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri yaitu
USD 3,5 per mmbtu. Kebijakan Putri proklamator RI yang dinilai ‘konyol’ oleh
sejumlah kalangan, disanggah oleh Ekonom Megawati Institute.
Iman Sugema, Ekonom
Megawati Institute dalam Diskusi Polemik di Warung Daun, Cikini mengatakan
langkah yang dilakukan oleh Megawati sudah benar. Sebab harga gas pada tahun kepemimpinannya
waktu itu sedang turun, belum setinggi sekarang. Sehingga menurutnya, Megawati
tidak layak disalahkan.
"Kita harus
memahami konteks masa beliau jadi presiden tahun 2001-2004. Contohnya penjualan
gas Tangguh, dikatakan bahwa itu terlalu murah, dalam konteks sekarang, oke ya.
Di tahun 2003 waktu itu situasi dunia untuk harga gas dan minyak bumi sedang
turun," ujar Iman di Jakarta, Sabtu (5/4/2014).
Ia berdalih,
harga gas Tangguh senilai USD 3,5 per mmbtu sudah sesuai dengan mekanisme
pasar. Selain itu, pemerintah pada waktu itu juga tengah kesulitan menjual gas
Tangguh. Sehingga keputusan Presiden pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh
pembeli.
"Waktu itu
banyak sekali ladang gas yang belum tereksploitasi kemudian tidak ada pembeli,"
tegas dia.
Menjadi masalah,
ketika pemerintah Mega meneken perjanjian menjual gas ke China dengan harga USD
3,5 per mmbtu dengan harga tetap. Sehingga ketika harga naik, seperti saat ini,
China bisa tertawa lebar menengguk harga gas murah, meskipun Indonesia selaku
pemasoknya menaikkan harga gas di dalam negeri.
Hingga saat ini,
dirilis bloomberg.com kemarin, harga gas dunia sudah mencapai USD 4,44 per
mmbtu. Ekonom Megawati Institut itu juga beralasan, kebijakan meneken harga
tetap yang dilakukan Megawati itu punya sejarah panjang. Mega punya hubungan
pertemenanan dengan sejumlah pejabat China.
"Pada saat
itu dengan pertemanan Bu Mega dan para pejabat di China punya long history,
kemudian dibuat keputusan bahwa satu untuk menghindari volatilitas penerimaan
negara harga gas tidak dengan floating tapi dengan harga yang tetap,"
terang dia.
Iman malah
menunjuk Presiden yang menjabat saat ini yang bertanggung jawab untuk merevisi
perjanjian itu. Karena Megawati saat ini tidak lagi menjabat sebagai presiden.
SBY menurutnya, harus melakukan renegosiasi.
"Tugas pemerintahan SBY untuk merevisi perjanjian, bukan
tugas Bu Mega, enggak mungkin Bu Mega yang merevisi," kilahnya. (MDK)
foto: idealisme.blogdetik.com
foto: idealisme.blogdetik.com
