Ado
kasiang kita pe burung kiapa ngana so jadi bagini. Kita pe burung yang kita
sayang. ternyata bukan burung yang setia. Ngana satu-satunya burung yang kita sayang, Ternyata ngana
burung bajingan....
Itu
sebagian lirik dari burung bajingan. Lagu dari Manado yang menggelitik dan
multitafsir. maknanya dapat disimpulkan berbeda oleh para pendengar. Namun semua
sepakat jika Burung bajingan di kawinkan dengan politisi, Jadilah dia Politisi Burung Bajingan. Artinya
Politisi Bajingan.
Bagaimana
dengan para politisi (Wakil Rakyat) Incumbent? Yang Dulunya disayangi rakyat, berjanji
setia memperjuangkan kepentingan rakyat, dipilih dengan dorongan ideologis, (sebagian
besar komitmennya dikuatkan dengan money politic). Akhirnya meninggalkan
rakyat. Bertemu dengan rakyat hanya disaat kampanye dan sosialisasi face to
face menjelang Pemilu 2009. Setelah terpilih, Reses pun hanya dimanfaatkan
untuk liburan dan bersenang-senang. Bukannya menampung aspirasi rakyat di DAPIL
nya. Tidak ada bedanya dengan burung bajingan bukan? Alias Politisi burung bajingan. (Tidak semua,
namun sebagian besar)
Sekarang
Politisi Burung Bajingan ini, kembali menghiasi pangung politik 2014. Menawarkan
janji yang “Sama” dengan Pemilu 2009. Hanya rakyat yang khilaf yang mau memilihnya.
Bagaimana
dengan “Politisi Newby” atau pendatang baru? yang Track Recordnya bersih (atau
belum kelihatan di permukaan), Gestur menjanjikan, dan berjanji membawa
perubahan?
Politisi
Newby, bisa menjadi alternatif pilihan masyarakat. Namun jika Strategi Politik
yang dilakukan tidak jauh beda dengan “Politisi Burung Bajingan”, maka
bersiap-siaplah kita tertipu oleh Calon “Politisi (Burung) Bajingan”.
Redaksi
iPublika
Sumber
Foto : www.youtube.com
