Lima
Hari setelah Jokowi mendeklarasikan diri Maju sebagai Calon Presiden RI
(14/03/2014), Jokowi kembali menjadi pembicaraan Publik. Setelah sebelumnya,
perhatian publik “direbut” Tri Rismaharani yang sempat menyatakan keinginannya
mundur sebagai Walikota Surabaya. Risma disebut sebagai wali kota terbaik dunia
untuk bulan Februari versi Citymayors.com. Risma dipilih karena dinilai
berhasil membawa perubahan signifikan terhadap perkembangan Kota Surabaya.
Tidak
kalah dengan Risma, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sewaktu menjabat sebagai
Walikota Solo juga pernah terpilih sebagai Wali Kota Terbaik Dunia 2012,
peringkat ketiga oleh situs worldmayor.com. dari sekitar 910 nominasi wali kota
di seluruh dunia. Jokowi dinilai berkomitmen untuk mengubah kota menjadi layak
huni secara nasional maupun internasional.
Setelah
menjabat Gubernur Jakarta, Gebrakan “Blusukan” Jokowi, menarik simpatik
masyarakat Jakarta dan Rakyat Indonesia. Pemimpinnya wong cilik disematkan
kepada pemilik mobil B 1 DKI ini.
Setahun
menjabat, Kota Jakarta kembali “bergairah” dengan program-program Jokowi-Ahok.
Meluncurkan Program Kartu Jakarta Sehat, Normalisasi Waduk, penertiban PKL,
sampai pembangunan MRT dan Monorel. Secara sederhana, Jokowi ingin membebaskan
Jakarta dari Banjir dan Macet. Seketika, Nama Jokowi menjadi pemuncak
“Klasemen” Survei dari berbagai Lembaga. Baik diukur dari Popularitas,
Kredibelitas, ataupun Elektabilitas.
Namun
apa modal itu cukup untuk memimpin Bangsa Indonesia yang cakupannya lebih luas
dari Jakarta?
Memang
Banjir dan macet adalah penyakit “akut” bangsa ini. Namun tidak sekedar banjir
dan macet dalam artian sempit. “Banjir” Korupsi, “Macetnya” penegakan hukum,
dan kedaulatan bangsa yang masih terpenjara dalam “Mimpi”, adalah Problem mendasar bangsa Indonesia.
Yang
menggilitik adalah saat banyak kalangan menyatakan bahwa Jokowi adalah “anak
idelologis” Soekarno. Seperti dilansir dari berbagai media.
Konsep
Trisakti Soekarno, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi,
dan berkepribadian secara sosial budaya diklaim sesuai dengan visi Jokowi.
Padahal
sampai saat ini, visi besar Jokowi terkait dengan kedaulatan bangsa, belum
terlihat. Jokowi masih bicara sebatas Macet dan Banjir Jakarta. Itupun belum
selesai...!!
Bicara
Kedaulatan Ekonomi, Jokowi belum berani mengkampanyekan kedaulatan Ekonomi
bangsa Indonesia. Bahkan keragu-raguan menyeruak jika kita menilik kebelakang,
terkait dengan industri mobil Nasional ESEMKA yang tak nampak perkembangannya.
Bahkan Terkesan Hanya dijadikan “Alat” Kampanye politik Jokowi dalam PILGUB
Jakarta 2012 lalu. Saat itu, Jokowi sangat getol memperjuangkan mobil Esemka
menjadi mobil nasional. Namun saat gagal uji emisi di Jakarta, mobil Esemka itu
pun hilang dengan kesibukan Gubernur DKI Jakarta ini.
Bicara
Kedaulatan Energi, Cadangan Migas yang dikhawatirkan habis sebelum dinikmati
anak-cucu kita, belum berani diangkat sebagai bahan kampanye Jokowi.
Mampukah
Jokowi membawa Bangsa Indonesia berdaulat dan mandiri dalam pengelolaan
Sumber Daya Alam? Jawabannya masih misteri.
Namun,
Jawabannya jauh dari harapan, jika Jokowi hanya jadi “Boneka” Megawati. Maka,
dapat ditebak Pemerintahan Jokowi nanti tidak akan jauh beda dengan
pemerintahan di era Megawati (2001-2004), yang melepas beberapa BUMN
“strategis” ke tangan swasta (asing) dengan harga murah, memperpanjang kontrak
Freeport yang terlalu banyak mengeruk kekayaan papua. Sementara timbal balik
nya ke rakyat papua dan Bangsa Indonesia sangat minim.
Jika
Jokowi hanyalah “Boneka” Megawati, maka mustahil bangsa ini bisa “Berdaulat”.
Semoga
“Blusukan” Jokowi mampu menemukan ramuan yang tepat untuk membawa bangsa ini
menjadi bangsa yang berkemajuan.
Namun,
Jika Jokowi terpilih Presiden dan Blusukan ke semua daerah di Indonesia,
Berangkat dari Istana Negara, Lanjut ke Sabang sampai Merauke, Molongguane
sampai Pulau Rote, dari Provinsi sampai Kelurahan, mungkin saat Jokowi kembali
ke Jakarta, Istana Negara sudah bukan Milik Jokowi lagi . waktu 5 tahun tak
cukup untuk blusukan. Celoteh iPublikers (Sebutan buat penulis iPublika).
ipublikers : Putra Revolusi
Sumber
foto : www.thejakartapost.com
