Pembangunan pulau-pulau kecil termasuk
pulau kecil terluar, membutuhkan intervensi yang lebih luas dari berbagai
pihak. Hal ini disebabkan karena isu dan permasalahan yang ada sangat kompleks
dari level makro sampai mikro. Kondisi ini membutuhkan kerjasama pengelolaan dan
fasilitasi yang sifatnya menyeluruh. Berbagai jenis program dan kegiatan
pembangunan yang selama ini dilakukan untuk pemberdayaan masyarakat di
pulau-pulau kecil dirasakan belum maksimal karena adanya kesenjangan
pengetahuan dan kapasitas masyarakat. Hal
ini berakibat pada pola pemanfaatan berbagai sarana dan prasarana yang telah
terbangun tidak berkelanjutan, pendeknya umur ekonomis infrastruktur, lemahnya
manajemen kelembagaan kelompok masyarakat dan kemitraan dalam pengelolaan
pulau-pulau kecil belum sepenuhnya tercapai.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi program dan memfasilitasi pengelolaan
infrastruktur di pulau-pulau kecil terluar, Direktorat Pendayagunaan
Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Jenderal KP3K, Kementerian Kelautan, menyiapkan
dan memberikan pembekalan kepada 21 orang fasilitator lapagan yang akan di
tempatkan dan bekerja di Pulau-Pulau Kecil Terluar Berpenduduk (PPKT).
Penyediaan tenaga fasilitator ini
dilakukan melalui kerjasama dengan Destructive
Fishing Watch (DFW)-Indonesia, yaitu NGO yang sudah 10 tahun terakhir ini
concern pada isu dan pembangunan kelautan. Setelah melalui proses rekruitmen
dan seleksi, akhirnya terpilih 21 calon fasilitator yang merupakan sarjana
kelautan dari berbagai universitas di Indonesia seperti Universitas Hasanuddin,
Universitas Sam Ratulangi, Universitas Riau, Universitas Padjajaran, Sekolah
Tinggi Perikanan Sibolga dan Akademi Perikanan Sorong. Fasilitator terpilih
tersebut kemudian mengikuti pembekalan di Pulau Barrang Lompo, Kota
Ujungpandang pada tanggal 13-14 Mei 2014.
Adapun materi pembekalan yang diberikan selama 2 hari pelatihan adalah
tentang teknik-teknik PRA, perencanaan, pengorganisasian masyarakat,
mengidentifikasi isu, merumuskan agenda aksi dan program, komunikasi yang
efektif, teknik penulisan laporan dan menulis kreatif serta materi tentang
monitoring dan evaluasi program. Fasilitator dan narasumber dalam kegiatan
pembekalan berasal dari DFW-Indonesia yaitu Moh Abdi Suhufan, Andi Nurjaya,
Yusran Darmawan, dan AM Hijaz. Materi
yang diberikan merupakan hal-hal mendasar yang mesti dimiliki oleh seorang
fasilitator masyarakat terutama untuk menjadi bekal ketika diterjunkan ke
tengah-tengah masyarakat pulau-pulau kecil. Dalam pembekalan tersebut
dikembangkan juga serangkaian simulasi dan permainan peran serta sharing
pengalaman antar fasilitator yang sebelumnya sudah bekerja pada program-program
pemberdayaan masyarakat.
Melalui
kegiatan pembekalan ini, para fasilitator diharapkan akan memiliki kesiapan
mental, teknis, metodologi serta strategi dalam melakukan kerja-kerja
pendampingan masyarakat. Ke-21 orang fasilitator tersebut kemudian akan di
berangkatkan ke 25 Pulau-Pulau Kecil terluar Berpenduduk untuk mulai bekerja
bersama pemerintah daerah dan masyarakat guna memfasilitasi perencanaan dan
pengelolaan infrastruktur di lokasi pulau masing-masing. Dengan kehadiran dan
peran fasilitator tersebut diharapkan maka proses perencanaan, pembentukan dan
penguatan kelompok serta asistensi yang dibutuhkan masyarakat dalam pengelolaan
infrastruktur pulau-pulau kecil dapat lebih berkualitas. Tim fasilitator ini
nantinya secara fokus akan bertugas dalam fasilitasi pengelolaan dan
pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistim komunal di 25 PPKT
yang merupakan program kerjasama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan
dengan Kementerian Energi Sumberdaya Mineral.
Foto :
Tim Fasilitator Pendampingan Sarana dan Prasaranan Pulau-Pulau Kecil
Berbasis Masyarakat, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia
& Direktorat Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil, Ditjen KP3K
Kementerian Kelautan dan Perikanan
