Dalam Kamus Bahasa Indonesia, konsisten artinya
tetap, selaras, sesuai. Inkonsisten maksudnya tidak tetap, tidak selaras atau
tidak sesuai. Inkonsisten dalam terminologi akhlak artinya sikap tidak teguh
pendirian dan tidak konsekuen mempertahankan keyakinan dalam menghadapi godaan
atau ujian yang datang menghampiri.
Dalam
bahasa kiasan yang populer di kalangan masyarakat, Inkonsisten disebut dengan ”pucuk aru” yaitu pucuk daun aru yang
tinggi selalu mengikuti arah angin, jika angin datang dari arah Barat akan
bergoyang ke arah Barat, namun jika datang angin dari arah lainnya, dan iapun akan mengikuti arah angin itu. Maka
apabila ada manusia yang memiliki sikap inkonsisten selalu dianalogikan dengan
sikap pucuk aru dan dinyatakan tidak punya pendirian.
Budaya
”inkonsisten” ini bisa merasuki siapa saja, terutama para politisi. Hari ini berjanji, esok lusa
dikhianati dan diingkari. Bagaikan lirik lagu ” kau yang berjanji- kau yang
mengingkari”. Biasanya untuk merespon keinginan masyarakat di satu sisi, dan
kuatnya kepentingan pada sisi yang lain, maka janji menjadi tidak sepenuh hati,
janji sekedar janji-esok atau lusa diingkari.
Jika
benar, Jokowi pernah berjanji kepada masyarakat Jakarta khususnya ingin
mengabdikan seluruh hidupnya untuk Jakarta, mengatasi macet dan banjir begitu
janjinya, sesungguhnya pada saat berjanji itu, maka Jokowi telah masuk dalam
pusaran budaya inkonsisten. Karena sulit bagi Jokowi untuk mempertahankan
janjinya- tentu saja sangatlah sulit- disebabkan Jokowi bukan milik dirinya
sendiri, akan tetapi milik partai politik yang mengusungnya menjadi gubernur
Jakarta. Ketika kepentingan partai politik ” merebut kekuasaan” semakin
menguat, maka janji tinggal janji- eksistensi diri tidak peduli-seribu alasan
dicari-cari-tidak teguh pendirian menjadi pilihan.
Hari
ini Jokowi sulit melepaskan diri dari jeratan budaya inkonsisten, karena Jokowi
tidak sebagai pemilik dirinya sendiri. Senyuman yang selalu menghiasi
hari-harinya sekedar menutupi kerut keningnya berpikir keras-karena ia telah
melawan hati nuraninya. Jokowi tidak ingin menjadi orang yang mencla-mencle-
isuk kacang sore kedele- ingin menjadi dirinya sendiri-akan tetapi apa yang
terjadi-kepentingan partai politik telah memasung kemerdekaan diri-tak kuasa
menolak- tuan putri yang berkehendak,
tak mampu menghindar-karena keinginan nyonya besar-kalaulah sudah keinginan
nyonya besar- segala janjipun akan dilanggar.
Masyarakat
Jakarta malu angkat bicara, malu tidak terpenuhi ekspektasinya- tidak terjawab
keinginan dan harapannya ” Jakarta bebas Macet Bebas Banjir” begitulah mimpi sambil menghitung hari. Belumlah habis masa
sumpah jabatan gubernur DKI- seribu alasanpun dicari-cari. ” rakyat butuh
pemimpin negeri ” itulah argumentasi membela diri. ” Dengan
Bismillahirrohmanirrohim,- Jokowi siap memimpin negeri-2014 Jokowi Presiden
atas restu Megawati”
Budaya
inkonsisten banyak dicontohkan para politisi. hari kemarin partai hanura- esok
lusa entah kemana. Semalam di partai Nasional Demokrat –esok lusa sudah
minggat. Hampir semua partai mengalaminya- kadernya ada yang lompat sana lompat
sini. Tidak ada keteguhan hati. Inilah sesungguhnya deskripsi karakter
politisi- tidak adanya konsistensi diri-sangat jauh dari visi dan misi- apalagi
ideology dan militansi. Budaya inkonsisten – budaya ingkar janji- tradisi
politisi menjelang Pemilu merebut simpati dan empati.
Jokowi
dalam pusaran budaya inkonsisten-budaya inkar janji-ini bukan semata-mata
keinginannya, lebih disebabkan kemauan partai yang sangat kuat dengan
mengatasnamakan keinginan rakyat. Pantas jika rakyat bertanya : bagaimana
Jokowi mampu mempertahankan kemandirian- menjadi dirinya sendiri mengharungi
kehidupan ini- jika nanti terpilih menjadi pemimpin negeri ini-sebagai penentu
kebijakan Jokowi atau Megawati..?”
Dalam
pesfektif teori kebutuhan, maka Jokowi memiliki need for power lebih besar dari
pada need for achievement, Fakta sosial politik membuktikan bahwa Jokowi
seolah-olah tanpa beban menerima kebijakan partai ikut bursa capres walau harus
meninggalkan Jakarta dengan pekerjaan rumah yang banyak belum terselesaikan. Keinginan berkuasa (need for power) yang tinggi mengalahkan need for
achievement ( keinginan mencapai hasil/ prestasi). Pekerjaan rumah kota Jakarta
demikian banyaknya, urusan banjir yang melanda Jakarta, kemacetan yang tak
kunjung sirna, parkir yang belum tertata, trotoir yang digunakan untuk usaha,
pejalan kaki mengalah menanggung bahaya karena harus berjalan dipinggir jalan
raya, dan lain sebagainya adalah tugas-tugas mulia yang ditinggalkan begitu saja. Layaklah jika ada
yang berkomentar : “ Bagaimana mungkin mau mengurusi Indonesia ,
menyelesaikan masalah Jakarta
saja tidak bisa!” Memang yang paling aman bagi Jokowi menghindar
dari masalah Jakarta agar tidak ketahuan kalau tidak bisa mengatasinya. Tentu
saja alasan yang rasional dan klassik adalah meninggalkan Jakarta untuk memenuhi
tugas yang lebih besar yaitu memimpin bangsa. Walaupun alasan itu merupakan
argumentasi politis lebih disebabkan need for power mendapatkan kekuasaan semata.
Dalam
persfektif etika politik, budaya inkonsisten dimaknai spekulatif dan subjektif,
tidak objektif, komprehensif dan universal, sehingga budaya ingkar janji tidak
istiqomah dipandang sesuatu yang tidak melanggar etika apabila dapat memberikan
alasan yang rasional, sistematis, metodologis dan dapat dipertanggung jawabkan.
Argumentasi mengingkari janji dikemas dengan pendekatan tuntutan sosiologis dan
politis. Sosiologis diarahkan pada ekspektasi masyarakat yang mendaulat.
Politis dialirkan pada artikulasi aspirasi rakyat yang dinamis. Padahal
budaya inkonsisten tidak sekedar persoalan
etika politik akan tetapi erat hubungannya dengan akhlak yang akan
dipertanggung jawabkan tidak hanya di dunia ini akan tetapi juga dipertanggung
jawabkan di akhirat kelak.
Dikotomi
yang terjadi membelah persepsi dunia dan ukhrowi menggelitik akal pikiran dan
hawa nafsu beragumentasi. Seolah-olah inkonsisten itu soal biasa-biasa saja,
sesungguhnya akibat yang ditimbulkan begitu menakjubkan. Janji membuat orang
menanti-nanti. Ingkar janji menyia-nyiakan impian dan harapan. Menelantarkan
tugas dan kewajiban. Segala keputusan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan,
dan sebagai seorang Muslim akan
mempertanggung jawabkan sumua kebijakan di hadapan Allah SWT.
Masyarakat
Jakarta berhentilah berharap- karena Jokowi sudah menyatakan siap ! yaitu siap
meninggalkan janjinya untuk Jakarta. Janganlah karena malu tidak terpenuhi
ekspektasi- berargumentasi begitu dan begini. Janganlah karena kerelaan hati
dan perasaan lantas melepaskan kesalahan yang dilakukan. Wallahu a’lam.
Penulis adalah
Ketua Asosiasi Pers Independen Indonesia
(APII) Kota Medan
dan Mahasiswa Pasca
Sarjana
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
UMSU Medan
foto: image.google.com

