Oleh : Dianti Novita Marwa
Fenomena Jokowi tidak terelakkan masyarakat Indonesia saat ini. Bagaikan hujan dimusim
kemarau, rakyat bersuka cita menikmati derasnya hujan
dan terus tergilas tanpa berpikir efek negatif dan positifnya.
Media cetak, elektronik dan media online seakan tak
henti-hentinya memberitakan sosok Jokowi yang kontroversial.
Ada pro dan kontra terhadap orang nomor 1 di DKI Jakarta ini.
Belakangan, media sosiaal ikut meramaikan
bursa perbincangan hangat tentang Jokowi. Mulai dari facebook (FB), twiter,
instragram dan media sosial lainnya. Tak tanggung-tanggung, saling ejek, saling
tuding dan sumpah serapa terjadi.
Tiada hari tanpa ejekan, tak ada status FB
tanpa sumpah serapah, tak ada kicauan twitter tanpa ejek-ejekan, sampai pada instagram dengan foto-foto saling
menyudutkan. Sah-sah saja ada pro dan kontra, tetapi sudah kelewatan jika
rakyat harus saling "bantai" hanya karena sudut pandang berbeda demi sebuah pembenaran. Pengguna media sosial tersebut sudah ikut
tergilas dengan "dagelan" para elit politik yang dengan mudahnya
mengotak-atik persatuan rakyat. Miris melihat
fenomena yang seakan tiada akhir.
Pemilihan presiden masih beberapa bulan
lagi. "Perang" status dan stetment
yang harusnya mampu dijadikan tempat diskusi, malah menjadi tempat para
"penyamun-penyamun" intelektual gencar bertindak yang berujung pada
perpecahan.
Bagaimana tidak, hanya untuk mempertahankan
pendapatnya harus pake sumpah serapah, maki-makian,
bahkan membawa nama agama, ras, dan lain sebagainya.
Jokowi yang dipuja-puji pasti memenangkan kursi presiden Indonesia
(menurut pendukung Jokowi di FB, Twiteer) mengungkapkan bahwa yang kontra dengan majunya Jokowi sebagai presiden, karena
takut jagoan presiden mereka kalah. Ada yang menggunakan landasan suku
hingga agama.
Silahkan cek dan ricek dimedia sosial
masing-masing. Ributnya rakyat dunia maya berperang karena Jokowi. Masih ada beberapa bulan lagi untuk sama-sama kita menyadari, kenapa hal ini bisa
terjadi. Banyak persoalan yang terjadi di republik ini,
tetapi fenomena Jokowi menenggelamkan semuanya. Semua bercokol dalam satu kepentingn yang abstrak.
Semua berita dan informasi yang dikonsumsi
sudah selayaknya dijadikan bahan diskusi untuk menjadikan rakyat Indonesia cerdas dalam memilih pemimpin kedepan. Bukan malah
sebaliknya.
Hingar bingar pesta politik yang akan berlangsung hanya bagian euphoria bangsa yang
terdegradasi oleh kekecewaan terhadap pemimpinnya.Tak hayal, menjadikan kita semua egois dan
membenarkan sesuatu yang belum
tentu benar. Silahkan punya pilihan dengan alasan masing-masing. Tapi tetap
ingat, Indonesia itu bhineka tunggal ika. Walau berbeda tetap satu.
Jangan sampai hal ini memprovokasi kita
semua untuk masuk dalam dagelan politik yang kerap
memakan korban atas nama "rakyat".
Akankah Jokowi membawa mashlahat bagi
bangsa ini, atau sebaliknya membawa mudharat?
Jika kehadirannya dianggap fenomenal apakah
akan membawa kebaikan kedepan??
Kemashlahatan akan tercapai jika kita
cerdas dan bijak dalam memilih.. Kemudharatan akan terjadi jika kita egois dan
menjadi bagian orang-orang
munafik.
Pilihan ada ditangan rakyat, untuk
kemakmuran rakyat.
Sumber Foto : tandichen.blogspot.com
