Oleh : Taufan Putra Revolusi
(Ketua DPP IMM)
(Ketua DPP IMM)
Hanya menunggu
waktu, Jokowi akan dilantik sebagai Presiden RI. Ekspektasi besar Rakyat
Indonesia kepada mantan Gubernur DKI Jakarta ini untuk membawa Negara Republik Indonesia
ke jalur kesejahteraan. Negara yang ‘memiliki segalanya’ untuk lepas landas
menuju kemajuan. Harapan itu kembali mencuat. Jokowi menolak mobil dinas baru untuk
kabinet Jokowi – JK, menurutnya mengganti mobil dinas hanya pemborosan.
Sebuah sikap yang
jauh berbeda dari pemimpin-pemimpin sebelumnya, yang gemar menghambur-hamburkan
anggaran Negara. Tentu saja rakyat Indonesia berharap Jokowi konsisten dengan
sikapnya. Tidak sekedar pencitraan.
Penolakan
terhadap mobil dinas bagi kabinet baru, menghemat anggaran. Namun, Rakyat
Indonesia berharap, Jokowi tidak berhenti pada pengehematan anggaran. Tapi lebih inovatif dan kreatif lagi untuk meningkatkan
neraca APBN, dengan tujuan lebih besar yaitu kesejahteraan rakyat. Kalau sekedar
penghematan anggaran saja, ‘anak kos’ pun sering melakukan itu.
Seiring penolakan
Jokowi terhadap pengadaan mobil dinas bagi kabinet baru, muncul harapan
masyarakat, kabinet Jokowi akan menggunakan mobil ESEMKA. Benarkah…?
ESEMKA adalah
merek mobil hasil rakitan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Sejak akhir 2012
mobil yang berawal dari praktikum siswa SMK di Surakarta itu sudah diproduksi
massal dan dijual untuk umum. Dukungan Jokowi semasa menjabat sebagai Walikota
Surakarta berdampak pada Perkembangan ESEMKA. Bahkan Jokowi menggunakan SUV
ESEMKA sebagai kendaraan dinasnya pada saat itu.
Mengembangkan
Industri Mobil Nasional, adalah keharusan. Sebelum ESEMKA digunakan sebagai
kendaraan dinas Jokowi, Industri Mobil Nasional pernah dijajaki. Namun belum
mampu berkembang. Marlip, Maleo, Tawon, dan Timor, adalah Mobnas yang
perkembangannya berhenti ditengah jalan. Political will di masa itu belum
membuka ruang bagi berkembangnya Industri Mobil Nasional.
Industri Mobil
Nasional adalah indikator bahwa Negara Indonesia bukan lah Negara yang dihuni
oleh orang-orang terkebalakang. Sumber Daya Manusia di Republik Indonesia
(meski belum merata), sebenarnya mampu menyaingi masyarakat di Negara-negara maju.
Pengembangan Industri Mobil Nasional adalah bukti dari rasa nasionalisme bangsa
Indonesia untuk mencintai produk dalam negeri.
Memang, ESEMKA
masih jauh dari kata sempurna, namun dengan “political will” pemerintah Indonesia,
dan membangun mentalitas rakyat agar bangga dan cinta terhadap produk nasional, mampu
membawa ESEMKA bersaing dengan Industri otomotif bangsa lain. Miris melihat bangsa
kita mampu mengembangkan industri mobil nasional, namun yang menghiasi jalan-jalan
di Indonesia malah mobil-mobil produksi bangsa yang pernah menjajah kita.
Mendukung
Industri Mobil Nasional adalah indikator dari terealisasi nya konsep Trisakti
Soekarno yang selalu dijadikan bahan kampanye Jokowi-JK, yaitu Berdikari dalam
Ekonomi.
Industri Mobil
Nasional tidak sekedar menumbuhkan rasa nasionalisme, memupuk kebanggaan rakyat
Indonesia, ataupun profit oriented. Menurut
Dra. Ana Irhandayaningsih, M.Si (Dosen Universitas Diponegoro) Pengembangan
Industri Mobil Nasional merupakan salah satu upaya untuk melawan
neokolonialisme bidang teknologi transportasi yang sampai saat ini masih
dikuasai oleh kekuatan asing.
Menarik untuk
ditunggu, politicall will Jokowi-JK dalam hal pengembangan industri mobil nasional.
Mampukah Jokowi-JK melawan Serbuan liberalisasi yang menjadi masalah runtuhnya
Industri Nasional…?
Atau
sebaliknya, Jokowi-JK malah “meng-hibahkan” bangsa ini pada kaum
neo-kolonialis, dan mendukung liberalisasi..?
Lihat saja dari mobil dinas “Presiden Jokowi”
nanti…
Sumber Foto : www.dakwatuna.com
