“Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan Negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan negara.”
---Sidney Hook
Masih jelas diingatan kita hasil pemilu gubernur Kaltim pada bulan September 2013
lalu. Golput mendapat persentase tertinggi sebesar 44,19 % jauh melampaui pasangan AFI-Mukmin, pemenang pemilu. Terlepas dari masalah teknis, hal ini menjadi indikator kuat bahwa masyarakat Kaltim mulai tidak mempercayai proses
demokrasi. Yang salah satunya adalah pemilu. Bahkan secara kasar dapat kita katakan bahwa masyarakat mulai apatis terhadap siapa yang akan memimpin mereka. Karena selama ini, proses
berdemokrasi tak berpihak pada masyarakat. Saya sebagai bagian dari masyarakat sempat berpikir, apakah masyarakat sudah tak membutuhkan pemimpin lagi?
Angka golput di Kaltim yang
terus meningkat
di setiap pemilu, menjadi hal yang tragis. Karena hal ini menyiratkan kegagalan pemerintah atas pendidikan politik terhadap masyarakat. Masyarakat secara lugas dan gamblang mengatakan bahwa pemerintah tidak punya peran besar terhadap mereka. Kalau sejenak kita berjalan-jalan di pasar tradisional. Maka kita akan mendengar beberapa kicauan yang datang dari nurani rakyat.
“Sekolah bayar, jalanan rusak, kedokter mahal, cari makan susah.”
“Lebih baik cari duit daripada nyoblos”
Ungkapan-ungkapan ini menjadi bukti konkrit bahwa suatu pemerintahan tak memberikan dampak signifikan bagi rakyatnya. Kemiskinan,
marginalisasi dan pembiaran menjadi realitas yang terus –menerus kita saksikan. Namun, saya tak mau mengeluhkan hal tersebut. Sudah ada banyak aktivis yang tanpa lelah menyuarakan hal tersebut bahkan walau tak didengar oleh orang lain.
Kesadaran-kesadaran atas realitas tersebut disampaikan agar setiap
orang bergerak dan melakukan sesuatu untuk bangsa ini.
Kita
tak akan berbicara banyak soal penderitaan masyarakat. Susah
makan, susah sekolah,
tidak diperhatikan sudah menjadi isu harian yang tak henti-hentinya memenuhi pikiran kita. Aku tak tahu apakah kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif masih punya hati dan telinga untuk mendengar hal tersebut.
Aku salah seorang yang pesimis terhadap proses
demokrasi, terutama pemilu. Bagaimana mungkin mereka-mereka yang
mengaku wakil rakyat itu bisa mengobral janji, berbicara asal tanpa memberi bukti. Akan melakukan ini itu, tetapi ketika terpilih justru tak ubahnya iblis yang tak punya hati. Kalau iblis saja ketika hendak menggoda manusia meminta izin pada Tuhan. Nah, wakil rakyat ini diam tetapi “membunuh” hampir seluruh masyarakat. Mengakibatkan dampak sistemik yang mengakibatkan masyarakat tersiksa setiap harinya. Tetapi bukan hal itu yang ingin aku katakan dalam tulisan singkat ini. Aku hanya ingin mengatakan kenapa aku memilih untuk golput.
Satu,
siapapun yang memimpin tidak berpengaruh buatku. Dua, Aku muak dengan janji-janji manis para calon wakil rakyat. Tiga, wakil rakyat ini hampir semuanya koruptor. Empat, Walaupun aku nyoblos, pasti surat suara akan berubah. Empat alasan itu membuatku yakin, bahwa
TPS dan waktu lima menit untuk nyoblos itu akan lebih berguna untuk mencari uang. Daripada memilih wakil rakyat untuk lima tahun kedepan.
Dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalimat ini yang kupelajari dari SD tak lebih dari bualan belaka. Apalagi definisi Sidney Hook di
atas, utopia! Aku tetap akan memilih golput. Daripada ikut bertanggungjawab atas kehancuran yang akan terjadi lima tahun mendatang.
Namun hari itu aku terhenyak, ketika membaca tulisan penyair Jerman, Bertolt Brecht :
“Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi politik. Dia tidak tahu biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, dan yang
lainnya tergantung pada keputusan politik. Orang yang
buta politik begitu bodoh, sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya dan mengatakan bahwa ia membenci politik. Namun dengan kebodohannya, akan menghasilkan tuna wisma, anak terlantar dan pencuri.”
Melihat tulisan itu membuatku berpikir. Apakah hanya karena lima menit yang tak mau kusisihkan. Aku membiarkan manusia tak bermoral mengambil kebijakan. Dan membiarkan orang-orang baik tergusur dari pentas politik. Apakah kita siap untuk dosa itu? Aku tidak, bagaimana dengan Anda?
Samarinda, 02 April
2014.
Oleh Praja Rahman*
Oleh Praja Rahman*
Menuju Indonesia
Berkemajuan.
*Praja
Rahman adalah nama pena dari Rahman Putra.
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Kaltim dan direktur PENA MERAH
(Komunitas Penulis Religius-Humanis).
Sumber Foto : kamoeindonesia.org
