Perkembangan
budidaya di Indonesia saat ini begitu pesat seiring dengan kebijakan
Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah mendorong peningkatan produksi
perikanan khususnya untuk produksi budidaya. Dorongan ini dimulai sejak periode
Fadel Muhammad yang mencanankan peningkatan produksi perikanan hingga 353%
persen pada tahun 2014. Sehingga menstimulasi seluruh komponen, baik pemerintah,
swasta dan masyarakat secara bersama-sama untuk turut dalam menyukseskan
program yang telah direncankan tersebut.
Seiring
berjalannya waktu, perkembangan teknologi atas penerapannya terhadap teknik
budidaya juga semakin meningkat hal ini disadari akibat beberapa hal yang
secara terus menurus menjadi kendala dalam melaksanakan atau mempraktekkan
model budidaya. Kendala tersebut berasal dari kurangnya pemahaman para
pembudidaya untuk menghidari permasalahan-permasalahan yang sebenarnya
dampaknya dapat dikurangi.
1.
Dampak Langsung
Berbagai
jenis kegiatan budidaya yang telah dipraktekkan oleh masyarakat, secara lansung
memberikan pengaruh terhadap lingkungan perairan yang diakibatkan oleh limbah
dari pakan/makanan ikan yang diberikan kepada ikan budidaya. Selain limbah
pakan tersebut, penempatan budidaya juga memberikan pengaruh terhadap ekosistem
sekitarnya seperti terumbu karang yang berada pada lokasi budidaya. Hal ini
akan sangat memberikan dampak negatif bagi ekosistem terumbu karang karena akan
menghalangi proses fotosintesis karang untuk mendapatkan cahaya atau sinar
matahari yang pada akhirnya akan mengalami stress dan kematian karang.
Selain
dampak negatif yang dihasilkan oleh budidaya tentu saja dampak positif dari
kegiatan budidaya ini juga cukup besar, karena secara lansung memperlihatkan
kepada masyarakat hasil dari kegiatan yang mereka laksanakan sebagai upaya
untuk kelansungan hidup masyarakat, khususnya Nelayan.
Hal
penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah kondisi sosial masyarakat setempat
(local wisdom) dimana akan
dilaksanakan kegiatan budidaya. Hal ini sebagai salah satu jaminan
keberlansungan kegiatan budidaya agar tidak terjadi persoalan-persoalan yang
akan timbul dikemudian hari, akibat perencanaan yang tidak melibatkan masyarakat
setempat yang seharusnya dapat diselesaikan sejak awal. Hal ini perlu menjadi
perhatian para manager perencanaan pada bidang eco-technopreneur sebagai modal utama dalam menyukseskan
perencaanaan.
2. Dampak
Tidak Langsung
Pelaksanaan
kegiatan budidaya akan memberikan dampak yang secara tidak lansung mendorong
para akademisi untuk melakukan penelitian-penelitian terkait permasalahan yang
dihadapi para pelaku budidaya. Selain akademisi, juga turut para pakar
teknologi untuk mengasilkan karya demi memudahkan kegiatan budidaya, dan yang
terpenting adalah ilmu dan teknologi yang telah dihasilkan mampu memberikan
dampak bagi masyarakat untuk peningkatan perekonomian bagi kesejahteraan.
Hal lain yang
membuktikan bahwa kegiatan budidaya memberikan dampak positif adalah komitmen
Pemerintah yang jauh sebelum pencanangan tentang rencana untuk meningkatan
hasil perikanan budidaya adalah penjaminan food
security pada unit usaha budidaya di hulu (on farm), maka dikeluarkan regulasi melalui Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan Yang
Baik (Good Aquaculture Practice),
dimana dalam pelaksanaannya mengacu pada regulasi teknis Surat Keputusan Dirjen
Perikanan Budidaya Nomor : KEP.44/DJ-PB/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Sertifikasi CBIB. Melalui ke-dua regulasi tersebut, maka setiap unit usaha
budidaya diwajibkan menerapkan Kaidah-kaidah CBIB dalam setiap rangkaian proses
produksi. Bahkah Ditjen Perikanan Budidaya, dalam hal ini Direktorat Produksi
telah menetapkan target sertifikasi CBIB sebagai indikator kinerja kegiatan
(IKK) (www.djbp.kkp.go.id).
Sertifikasi CBIB
dilakukan sebagai upaya untuk untuk memberikan jaminan terhadap unit usaha
budidaya yang telah menerapkan CBIB dan dapat memperoleh sertifikat CBIB yang
menyatakan bahwa produk budidaya yang dihasilkannya aman untuk dikonsumsi.
Budidaya mampu
memberikan efek yang luar biasa kepada banyak masyarakat Indonesia (multiflier effect), hal ini membuktikan
bahwa kegiatan ini mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi Negara. Tinggal
bagaimana seluruh stakeholder saling bahu membahu mempertahankan ritme dalam
menjalankan kegiatan budidaya untuk keberlanjutan.
Keberhasilan
budidaya perikanan di Nusantara tidak terlepas dari kompetensi sumberdaya
manusia yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan konsep-konsep di bidang
pembudidayaan, sehingga hal ini patut diapresiasi sebagai salah satu aset
bangsa. Tetapi pernakah kita berfikir bahwa dengan luas lautan yang mencapai
5,8 juta km2, Indonesia mampu mengahasilkan produksi perikanan yang
jauh lebih tinggi (high production)
dari apa yang dihasilkan sekarang. Penulis tidak bermasksud untuk
mengesampingkan budidaya perikanan tapi potensi yang dimiliki Indonesia jauh
lebih diatas pencapaian budidaya perikanan hari ini.
Kegagalan
Indonesia untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan yang dimiliki dan melakukan
pembiaran terhadap pencurian ikan (Illegal
fishing) di berbagai lokasi jelas mencoreng dan memiskinkan nelayan. Secara
kompetensi dalam hal penangkapan ikan, masyarakat nelayan Indonesia jauh lebih
memahami persoalan kondisi perairan sehingga tidak ada alasan untuk melakukan
pembatasan terhadap masyarakat neyalan untuk memanfaatkan seluruh wilayah
pengelolaan perikanan (WPP) kepada nelayan-nelayan Indonesia untuk melakukan
aktifitas di wilayah tersebut.
Pembatasan
aktifitas yang dirasakan oleh masyarakat adalah sulitnya pengurusan untuk
mendapatkan izin penangkapan, bantuan masyarakat yang tidak tepat sasaran, hal
inilah yang sering terjadi sehingga harapan untuk meningkatkan kesejahteraan
nelayan tidak dapat tercapai.
Kalkulasi dan
hitungan ekonomi telah banyak dilakukan oleh para pakar tentang kerugian Negara
akibat pencurian ikan, yang nilainya cukup mengherankan mencapai Rp. 300
triliun (data BPK 2012). Jika tidak
segera ditindak lanjuti maka kemiskinan akan tetap menjadi bayang-bayang
masyarakat nelayan Indonesia.
Dukungan dari
berbagai pihak dibutuhkan untuk menciptakan strategi dalam menanggulangi
kondisi seperti ini. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan dan
mewujdukan agar masyarakat nelayan Indonesia secara bertahap mencapai
kesejahteraan. Kita sadar bahwa kondisi ini sangat membahayakan, lalu mengapa
tidak dapat dihentikan, justru melakukan pembiaran.
Mendukung nelayan
Indonesia untuk menjadi pemimpin dan kuat di lautan, memerlukan kapal dan
teknologi yang mumpuni untuk dapat bersaing dengan para pelaku Illegal fishing, dengan pendampingan
aparat yang cukup. Hal ini akan membantu dan memberikan kekuatan baru bagi
nelayan Indonesia untuk percaya diri mengarungi lautan Indonesia dan turut
menjaga keamanan di perairan Indonesia.
Hal ini bukanlah
sesuatu yang mustahil, tetapi sangat memungkinkan untuk dilakukan karena
potensi tersebut telah dimiliki bangsa Indonesia, seperti PT. PAL yang mampu
menyediakan kapal dengan peralatan dan teknologi high class, kekuatan Angkatan Laut RI yang telah terus mengupayakan
untuk menjadi Angkatan Laut Kelas Dunia (World Class Navy). Tinggal
bagaimana pemegang kekuasaan di republik ini mampu menyatukan kekuatan tersebut
agar dapat direalisasikan.
Penulis,
Muhammad Nasir
Sekretaris
Jenderal Gerakan Pemuda Maritim Indonesia
