Subang-Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang
Kelautan dan Perikanan saat ini tengah merealisasikan proyek percontohan sentra nelayan versi Kadin
dengan konsep Business To Business di Kampung Nelayan, Desa Blanakan, Subang
Jawa Barat. Proyek ini merupakan permintaan Presiden Terpilih Joko Widodo saat
melakukan pertemuan dengan Kadin di Balaikota Jakarta, 6 Oktober 2014 lalu.
Dalam siaran pers yang diterima Redaksi Ipublika (16/10/2014),
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengatakan,
sentra produksi perikanan ke depan harus terintegrasi mulai dari kapal nelayan,
cold storage termasuk prosesing unit sesuai dengan kebutuhan tiap kelompok dan
kampung nelayannya, hingga permodalan dari perbanakan dan asuransi. Pengusaha
dalam Kadin Kelautan dan Perikanan telah siap menyatakan untuk menjadi off takernya.
Yugi menjelaskan, masyarakat di desa Muara, kecamatan
Ciasem, Subang, Jawa Barat, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Berawal dari
kampung nelayan kemudian berkembang dengan adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
dan Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Mina Bahari yang kemudian akan dilakukan
pembenahan menjadi sentra nelayan percontohan.
“Aktivitas rutin penangkapan ikan dan pelelangan sudah biasa
berjalan, hanya saja ke depan kita akan benahi beberapa hal agar lebih
terintegrasi dan menjadi sentra produksi perikanan yang baik,” kata Yugi.
Dia memaparkan, hambatan yang ditemui adalah masyarakat di
sana masih berfokus pada penangkapan ikan saja, belum mengarah pada proses
pengolahan hingga pemasarannya.
“Pengolahan ikan belum bisa dilakukan, karena terkendala
kepada sarana proses ikan, mesin pembeku
ikan (ABF), mesin es, cold storage dan sarana pemasaran. Kita
akan usahakan pengadaannya, termasuk modal usaha dan SDM untuk pengolahan,”
kata Yugi.
Dia menargetkan, kapasitas ikan olahan per bulan bisa
mencapai 50 ton. Idealnya sentra perikanan paling tidak memiliki satu unit
sarana processing ikan dan udang dengan kapasitas 3 ton per hari, satu unit
mesin pembeku dengan kapasitas 3 ton per proses, cold storage dengan kapasitas
40 ton dan mesin es dengan kapasitas 3 ton. Biaya investasi sarana itu mencapai
Rp 3,2 miliar dengan bantuan pengembalian modal kerja hingga 2,5 tahun.
Dia juga mengatakan, untuk menunjang usaha pengolahan dan
pemasaran ikan, pihaknya telah merealisasikan kendaraan bermotor roda tiga
berpendingin untuk memasarkan ikan dari koperasi nelayan setempat. Ke depan,
pihaknya berharap, sentra pengolahan ikan di daerah itu bisa terintegrasi mulai
dari usaha penangkapan, usaha pengasinan ikan, serta usaha tambak udang dengan
ditunjang manajemen pemasaran yang baik.
Foto: Lokasi Proyek Percontohan Sentra Nelayan versi Kadin dengan konsep Business To Business di Kampung Nelayan, Desa Blanakan, Subang Jawa Barat.

