“Climate change” atau lebih dikenal dengan perubahan iklim merupakan bukan
hal yang baru. Kejadian ini sudah terjadi jutaan tahun yang lalu namun pada
saat itu bumi masih mampu beradaptasi terhadapnya. Perubahan iklim yang terjadi
saat ini diperparah oleh aktivitas manusia (antropogenic)
yang semakin meningkat.
Salah satu yang paling berpengaruh adalah menurunnya
kemampuan ekosistem alami untuk menyerap dan mengikat serta menyimpan karbon.
Ini disebabkan oleh belum teratasinya praktek illegal loging, konversi
lahan hutan dan kebakaran hutan.
Oleh karenanya, diperlukan upaya-upaya secara intensif mengimbangi
aktifitas yang membuat bumi tidak berdaya menghadapi perubahan iklim.
Kolaborasi antara pemerintah, institusi, NGO serta stakeholder sangat dibutuhkan baik secara materi maupun dukungan
moril. Secara sektoral diperlukan keterpaduan dalam mengelola hutan di wilayah
Indonesia agar tetap mempertahankan fungsinya.
Misalnya upaya pendidikan dan
penelitian tentang daya serap karbon pada luasan hutan berdasarkan jenisnya
(peruntukan, keanekaragaman spesies, masa hidup dan lain sebagainya). Tidak
menutup kemungkinan para ahli pengelolaan hutan dituntut untuk melakukan inofasi
dan terobosan baru dalam pemanfaatan hutan sebagai nilai ekonomis namun juga
tetap mempertahankan fungsi alami hutan tersebut. Hal ini bukan saja melalui
peran sektor kehutanan, melainkan keterpaduan antara kelautan dari segi pesisir
yang memilki ekosistem hutan mangrove, perkebunan yang memilki dukungan lahan,
pertanian memilki lahan pangan yang produktif.
Konsep-konsep pengelolaan hutan akan lebih baik ketika rumusan strategi
yang dilahirkan oleh keterpaduan sektor tersebut. Tetapi, dalam perjalanannya perlu
kajian mendalam tentang bagaimana mengelola hutan baik berbasis ekosistem,
ekonomi, sosial budaya ataupun berbasis fungsi hutan itu sendiri. Tentunya
kajian ini layak dilakukan oleh pakar kehutanan dan dari hasilnya akan menjadi
landasan dalam mengembalikan peran hutan secara utuh.
Dari 56 jenis makalah yang disajikan terbagi dari empat
komisi a) Kebijakan Nasional Manajemen Hutan dan Pengelolaan DAS dalam
Pembangunan Wilayah, b) Langkah-langkah Strategis Manajemen Hutan Lestari
Melalui Pemulihan Daya Dukung DAS, c) Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka
Manajemen Hutan Lestari dan d) Kehutanan Umum. Namun, pertemuan ini belum
menyentuh hal tentang fungsi hutan dalam menyelamatkan bumi dari pemanasan
global. Sajian makalah hasil penelitian belum ada yang menyajikan kajian
mengenai peran hutan sebagai penyerap karbon.
Keterbatasan sumberdaya menjadikan permasalahan yang paling urugen
dimukabumi ini tidak tercerna dengan baik oleh para peneliti di Indonesia. Pada
akhirnya penyebab kerusakan hutan sendiri tidak mampu di antisipasi atau di
cegah sekalipun. Tidak heran, jika hutan di wilayah Kalimantan dan Papua
semakin menipis. Konversi hutan mangrove menjadi wilayah pertambakan serta
aktifitas pembangunan kota pantai mengancam keberadaan hutan mangrove. Itu
karena belum ada wadah yang mampu menjembatani keterpaduan sektor dalam
mengelola hutan di inonesia. Belum cukup anggaran untuk mengkaji aspek-aspek
mikro kehutanan dan memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Alangkah baiknya jika hutan kita di Indonesia berfungsi ganda dengan
baik. Memberikan rasa aman bagi masyarakat, tentunya memberikan sumbangsih
besar seperti pencegahan erosi banjir, memberikan nilai ekonomi serta menjaga
bumi dari ancaman perubahan iklim. Sehingga upaya-upaya yang sifatnya global
seperti adanya upah dari negara-negara maju kepada negara yang menjaga hutan
sebagai penyumbang oksigen dapat di konsepkan secara terpadu. Agar supaya
pengelolaan hutan di Indonesia menjadi tugas nasional dan berdampak
internasional.
Penulis: Irwanto
Lembaga Maritim Nusantara [LEMSA]
irwantomarine@gmail.com