Bakal Gelar Beragam Kegiatan di Anambas
Tarempa – Dalam rangka memperingati Hari Kelautan Dunia (World Ocean Day) yang jatuh pada tanggal 14 Juni setiap tahunnya, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia akan menggelar berbagai kegiatan di Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu bertujuan untuk menggugah kesadaran dan kepedulian pemerintah serta masyarakat akan pentingnya pengelolaan sumber daya kelautan bagi kebutuhan pangan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pemanfaatan yang berkelanjutan.
"Kita
akan menggelar serangkaian kegiatan di Pulau Mubur, Desa Pian Pasir, Kecamatan
Palmatak, meliputi kegiatan penyuluhan aspek sosial ekonomi dan ekologi terumbu
karang bagi anak SMA dan masyarakat, aksi bersih pantai, dan nonton film
bersama dengan tema konservasi terumbu karang dan ikan hiu," kata Moh Abdi
Suhufan, Koordinator Nasional DFW-Indonesia seperti dilansir BATAMTODAY.COM
melalui rilis, Selasa(3/6/2014).
"Kegiatan
ini akan mengikutsertakan Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Lingkungan Hidup,
Dinas Pendidikan Nasional dan Dinas Pariwisata setempat," imbuhnya.
Kegiatan
yang rencananya akan dibuka Wakil Bupati Anambas, Abdul Haris.
Menurutnya,
pembangunan kelautan yang dilakukan oleh bangsa ini belum dilakukan secara
serius dan terintegrasi. "Masih terkotak-kotak, sektoral dan menonjolkan
aspek perikanan saja. Padahal aspek pembangunan sangat luas seperti pelayaran,
pelayanan kepelabuhanan, wisata bahari, transportasi laut, jasa kelautan,
industri kelautan dan lain-lain belum digarap serius," katanya.
Selain
itu, beban kelautan semakin bertambah berat dengan adanya target konservasi
laut yang yang harus dikejar dan mengesankan perlindungan sumberdaya merupakan
hal yang utama. Jika konsepsi "3P" yaitu people, planet dan profit
diterjemahkan secara mendalam, maka bangsa ini harus merubah strategi manajemen
sumberdaya kelautan dengan menjaga keseimbangan tiga pilar tersebut dan
mengaktualisasikan dalam kerangka kebijakan negara yang pro-kelautan.
"Momentum
World Ocean Day harus meneguhkan komitmen yang kuat dari masyarakat Anambas dan
pemerintah dalam mempertajam visi pengelolaan kelautan demi kesejahteraan
masyarakat Anambas juga ke depannya," ujarnya.
Dia
menyampaikan, peringatan Hari Kelautan Dunia di Anambas ini juga disejalankan
dengan peringatan Coral Triangle Day pada 9 Juni 2014. Komitmen internasional
untuk melindungi kawasan coral triangle ini juga harus lebih dibumikan dalam
konteks pengelolaan terumbu karang di negara Indonesia, khususnya Kabupaten
Kepulauan Anambas yang memiliki 98 persen wilayahnya merupakan kelautan.
Menurut
Abdi, Indonesia seharusnya mempunyai skenario dan konsep pengelolaan terumbu
karang yang berpihak pada masyarakat pesisir dan nelayan bukan pada kepentingan
negara, donor asing apalagi corporasi asing. Masyarakat nelayan mesti diberi
alternatif mata pencarian dan pekerjaan yang bukan di luar sector kelautan
ketika zonasi atau tata ruang di wilayahnya teralokasi untuk kepentingan
konservasi terumbu karang.
"Nelayan
harus tetap mendapat akses dan kesempatan berusaha di laut demi mendapatkan
penghasilan dan kesejahteraan bagi keluarganya. Pengusahaan resor oleh warga
dan korporasi asing, seringkali mengurangi akses nelayan serta menyebabkan
mereka terpinggirkan dalam pengelolaan terumbu karang selama ini terjadi,"
ujarnya.
Sementara
salah satu nelayan asal Desa Temburun, Janudi, sampai saat ini belum mengetahui
secara jelas lokasi yang dijadikan daerah pengelolaan terumbu karang. Dirinya
juga meminta agar pemerintah memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutama
nelayan agar tidak salah persepsi.
"Jadi
kalau melaut, yaa ke mana saja. Selagi ada ikan, ya kita tangkap,"
katanya.
Janudi
menambahkan, dalam melakukan aktivitas melaut atau mencari ikan masih sebatas
nelayan tradisional yang menggunakan alat pancing sehingga kalaupun memasuki
daerah konservasi terumbu karang tidak akan merusak. "
Kami hanya mennggunakan pancing ulur sehingga tidak berpengaruh kerusakan pada karang, kecuali kalau pakai bom atau menggunakan kapal besar dengan jaring," katanya. (*)
Kami hanya mennggunakan pancing ulur sehingga tidak berpengaruh kerusakan pada karang, kecuali kalau pakai bom atau menggunakan kapal besar dengan jaring," katanya. (*)
